Kamis, 13 November 2014

Sore Itu, Bersama Gerimis

Jika suatu hari kita berpisah kuingin itu menjadi perpisahan yang indah. Perpisahan yang manis. Perpisahan yang tidak pernah terjadi pada orang lain. Perpisahan yang kita tersenyum saat berucap untuk berpisah. Perpisahan yang tanpa menyakiti siapapun, termasuk anak-anak kita. Perpisahan yang membawa kita pada kebaikan masing-masing.
Ketika kelak kita dipertemukan kembali, kita bisa saling berpandangan dan hati kita masing-masing berucap "aku beruntung pernah mencintainya". Dan perpisahan manis ini hanya milik kita.


Selasa, 11 November 2014

Edisi baikan

Pagi ini ada yang baru ku alami. Sesuatu yang hilang beberapa waktu kemarin. Sapaan yang mesra telah kembali. Senyumannya dipagi hari muncul lagi. Pujiannya ketika makan pagi, tentang masakanku kembai lagi terdengar di telinga.
Ada hangat yang menyesap ke dada. Lalu buncah menjadi senyuman.
Kehangatan yang sudah sangat kurindukan. Kehangatan baru yang menjadi pertanda bahwa reinkarnasi-ku membuahkan hasil. Dingin sudah berlalu dan hangat kembali menyelimuti aku dan rumah ini. Ini wujud nyata perkataan seseorang kepadaku "Karena setelah dingin berlalu, akan selalu ada hangat yang mendekap".
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Berharap

Ini adalah masa yang sudah kuduga akan datang menghampiri. Masa di mana tak ada rasa apapun di dalam pernikahan kami. Pernikahan yang kini hanya berjalan, berjalan, berjalan kemudian berlalu. Sulit sekali rasanya memahami kondisi ini. Ibarat perahu kecil yang mengapung dilautan luas, terombangambing oleh riak ombak tanpa tahu ke mana akan berlabuh.
 
Pernikahan yang pada akhirnya kupasrahkan kepada Dia. Karena Dia lah pernikahan ini terjadi, karena kehendakNya kami bersatu dalam takdir. Bukan karena cinta.
Bukan pernikahan yang seperti kebanyakan, yang didasari cinta dan kasih sayang.
 
Saat ini hanya mampu berdoa, ya Allah semoga Kau memberi kemudahan dan kelapangan hati untuk menjalani ini semua, jangan biarkan perahu kecil kami semakin jauh terbawa angin lalu dihantam badai hingga tenggelam ditelan ombak. Sentuh hati kami ya Robb, agar kami kembali saling mencintai.




Untuk Kamu

Dia adalah orang yang menyeramkan buatku. Memandangnya dari kejauhan saja membuatku gemetar tak menentu tapi itu dulu. Dulu sekali.
 
Dia adalah perempuan bertubuh mungil yang sudah sejak lama tak luput dari kehidupanku. Tubuh mungilnya selalu saja nyaman untuk tempatku bersandar. Dan saat bicara dengannya segala yang kurasa sulit menjadi jauh lebih mudah. Nasehatnya, pelukannya, perlakuannya semua terasa menyenangkan sekali.
 
Dia perempuan yang hingga kini selalu menjadi pemberi jawaban disetiap pertanyaanku. Dia perempuan kuat, yang selalu menyalurkan kekuatannya padaku. Memberi setengah ketangguhannya untukku. Memberi sesuatu yang tidak pernah diberikan orang lain buatku. Dia perempuan hebat yang membuatku juga merasa hebat pernah bersandar di peluknya.
 
Perempuan itu adalah kamu.
 
 

Jumat, 07 November 2014

Dingin

Akhir-akhir ini ada yang berubah di sini.
Rumah kami tak lagi senyaman kemarin, suasananya pun terasa hambar.
Yang ada hanya wajah-wajah dingin lalu lalang tak menentu.
Malam ini pun masih sama. Sama dinginnya.
Hanya ada satu kebiasaan yang tak terkalahkan dingin.
Kami masih makan malam bersama, di meja yang sama
Yang berbeda, sudah tak ada lagi pujian tentang masakanku. Dari dia.
Obrolan sebelum tidur pun menghilang.
Padahal aku begitu merindukannya.
Dan ketika besok pagi aku membuka mata yang kutemui juga hanya tatapan dingin
Tatapan yang sama seperti pagi sebelum-sebelumnya.
Aku hanya berani bertanya dalam hati,
Adakah dia merasa marah?
Marah dengan keinginanku yang sudah tak sejalan dengan pikirannya.
Adakah dia juga merasakan jenuh?
Jenuh yang sama dengan yang kurasa saat ini.
Meski jenuh, meski dia tak pernah mengerti tentang apa yang kuinginkan,
Aku selalu merindukan semua kebiasaan dan kebersamaan kami dulu.
 
gambar dari sini

mulai jenuh

Sekarang aku sudah sampai pada fase ini.
Fase di mana aku mulai jenuh dan sedikit lelah melalui perjalanan ini.
Jenuh menjadi istri penurut. Jenuh menjadi ibu yang baik. Jenuh menjadi menantu yang selalu mengalah. Ya..hanya jenuh
Hanya sekedar ingin berhenti sebentar saja.
Berhenti memainkan peran ini.
Berhenti menghilangkan lelah, untuk mengeringkan peluh yang terlalu banyak membanjiri tubuh.
Berhenti untuk berdiam diri lalu ber-reinkarnasi menjadi seseorang yang baru 
Seseorang yang lebih tangguh untuk menjalani kehidupan ini kembali
Berhenti beberapa menit saja, namun tidak untuk mengakhiri
Karena sesungguhnya tak ada yang ingin ku akhiri.

Kamis, 06 November 2014

Air Mata Lagi

Malam ini tangisanku tanpa air mata, air mata sudah habis ditangis pada malam-malam sebelumnya. Selain menangis, aku juga mengajak naluriku berdamai. Berdamai dengan kenyataan. Walau sebenarnya aku berharap bahwa kenyataan ini hanya mimpi. Mimpi yang ketika esok pagi aku bangun, aku sudah melupakannya. Melupakan kehidupan yang lebih banyak sakitnya dari pada bahagianya.

Sebelum mengajak naluri berdamai aku sudah marah pada diri sendiri. Pada diri yang sudah memilih jalan pahit ini. Jalan yang kerikilnya semakin tajam untuk dilalui!

Semua yang kulakukan terasa tak ada arti dan tak ada satupun yg perduli. Bahkan tangisan tanpa air mata ini adalah awal menuju langkah yg jauh lebih tajam lagi. Dan pada tangisan malam inipun aku tak pernah bosan untuk menengadahkan tangan meminta kepadaNya, untuk tetap memelukku, meyakinkanku bahwa aku memiliki Dia. Bahwa Dia selalu menuntunku melewati kerikil tajam itu hingga akhirnya aku menemukan jalan yang lurus dan mulus menuju bahagia.


 

Senin, 03 November 2014

Kubuat tulisan ini dengan linangan air mata dengan hati yang terluka.. ''Ya Allah tak ada tempat mengadu kecuali padaMu ya Robb,tempat aku berserah diri tempat aku memohon pertolonganmu...bantu aku ya Allah bantu agar hatiku tetap kuat,bantu agar aku jd manusia yg tetap bersyukur atas ridhoMu,dan bersyukur atas takdir yg sudah Engkau tentukan untukku Ya Allah tak ada tempat mengadu paling mujarab selain padaMu...

Jumat, 24 Oktober 2014

Love You More

Hey suami yang gak romantis,

terima kasih kejutan yang sudah ketauan di awal :-)
terima kasih clutch bag-nya, aku senang dihadiahi seperti ini.
jarang memang, tetapi cukup membuatku jatuh cinta berkali-kali padamu.
 
I love you suami #kecupribuankali :p

Selasa, 14 Oktober 2014

selamat ulang tahun lelakiku

30 September...
Selamat ulang tahun suami dan ayah terhebat, semoga panjang umur, murah rezeki dan sehat selalu, serta sukses disetiap usaha dan rencana, selalu menjadi suami dan ayah terhebat untuk kami. Amin.
 
 
 
kutekan tombol kirim. sebentar lagi pesanku akan sampai dan dibaca. tidak berapa lama kemudian ponselku berbunyi, aku tahu dia akan segera membalas pesanku. aku bahagia
 
Terima kasih, amin ya Allah.
 
aku membaca berulang-ulang balasan pesanku tadi, berharap ada terselip kata "sayang" di belakang kalimat-kalimatnya. ternyata tidak ada. hanya kalimat itu, entah apa kesulitan pria mengucapkan "terima kasih sayang atau terima kasih cinta". mau tidak mau aku tetap menggerutu dalam diam. tapi ya sudahlah, balasan yang mesra bukan hal penting lagi sekarang ini. yang terpenting dia tahu, dia punya istri yang hebat sepertiku #kepedean akut hahaha..
 
seperti inilah kami. seperti inilah cara kami memperingati hari spesial baik ulang tahun masing-masing ataupun ulang tahun pernikahan, yang mungkin masih merasa malu atau kaku untuk mengucapkannya langsung. bukan hanya dalam memperingati hari spesial,  menyelesaikan pertengkaran juga selalu lewat sebuah pesan. karena ketika keadaan emosi akal sehatpun tidak pernah ingin mengalah. apalagi wajahnya masih terlihat di depan mata, bukannya bertambah redam malah memancing amarah lagi.
 
mengucapkan maaf secara langsung bukan perkara mudah, itu harus melalui proses panjang yang berhubungan dengan gengsi dan harga diri. tapi sehebat apapun pertengkaran kami selalu selesai dengan satu pesan saja, cukup mengirimkan kata maaf. seolah kata maaf mempunyai magic yang sempurna untuk saling mengalah. cukup dengan satu pesan makanya semua masalah selesai. bertemu di rumah selanjutnya yaa seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
sedikit konyol memang, tapi begitulah cara sederhana kami dalam menyelesaikan masalah rumah tangga.
 
cinta kami juga unik, sama dengan pertemuan dan pernikahan kami yang mungkin bukan seperti pernikahan orang kebanyakan, yang direncanakan matang dan jauh-jauh hari. dia bukan tipe laki-laki romantis. yang ingat tanggal lahir istri, tanggal lahirnya sendiri dan tanggal pernikahan.
hanya aku yang selalu mengingatkan dia akan hari-hari spesial tersebut. setiap tanggal 30 September, aku rutin mengirimkan pesan ucapan selamat untuknya, walaupun hanya berbalas seadanya itu sudah cukup membuatku bahagia. dengan kebiasaanku selama ini, dia juga mulai mengirimiku ucapan selamat ulang tahun ditiap tanggal 13 Juni meski baru berjalan tiga tahun terakhir dan isi pesannya "mamanya anak-anak ulang tahun ya" setidaknya dia mulai belajar dan mengikuti hal-hal baik yang kulakukan. itu sudah cukup dari pada tidak sama sekali kan.
 
untuk tanggal pernikahan hanya aku yang mengingatnya, dia tidak tahu kata anniversary. mungkin mendengarnya pun tidak pernah. perbedaan usia kami cukup jauh ya tiga belas tahun, aku sangat maklum kalau dia tak mengerti hal-hal seperti itu. berbeda denganku yang terbilang masih anak kemarin sore, yang masih menginginkan hal-hal romantis, kata-kata mesra yang diselipkan di antara bisikannya atau kado-kado spesial dihari spesial.
 
aahh meski aku terkadang kecewa mendapati semuanya berjalan tidak seperti yang kuinginkan, aku tetap memujanya. memuja laki-laki yang selalu memberi yang terbaik untukku dan anak-anak. laki-laki yang selalu berusaha menyeimbangkan pola pikirnya denganku, mencoba menyesuaikan kekanak-kanakanku dengan umurnya yang sudah jauh melewati faseku. laki-laki yang selalu memberi ruang paling nyaman untuk kembali pulang. bukankah itu melebihi harga sebuah kado? bukankah itu sudah jauh melampaui makna dari sederet kalimat ucapan?
 
perlakuan lelaki terhebatku ini sudah lebih dari cukup. melebihi apa yang kuinginkan dan kuimpikan.
 
aku hanya selalu berucap dalam hati, semoga pernikahan kami yang sudah berjalan delapan tahun ini langgeng selamanya. semoga cinta kami selama delapan tahun ini semakin menjadi cinta yang kuat. semoga rasa sayang kami semakin erat agar tidak pernah ada kata berpisah dalam perjalanan pernikahan kami. Amin ya Allah.
 
 
pict from here
 
 

Sabtu, 11 Oktober 2014

Ibu Tiri Lebih Kejam dari Ibu Kota, Kata Mereka...

Ibu tiri atau bisa juga disebut ibu pengganti adalah momok yang menakutkan untuk anak-anak, baik yang masih usia kanak-kanak maupun sudah dewasa.

Yang pertama terpikir ketika mendengar kata ibu tiri mungkin adalah kejam. Mulai dari perlakuan yang semena-mena, cara mendidik anak tiri dengan sadis atau bisa juga seperti bermuka monster.
 
Untukku sendiri juga sama, ibu tiri adalah predikat buruk terdengar di telingaku. Yaa aku seorang ibu tiri yang mengurusi dua anak bawaan dari suami. Tapi aku sangat tidak setuju dengan kalimat "tidak ada ibu tiri yang tidak kejam". Hey..aku ingin teriak "adaaaa...ini aku orangnya!!"
 
Anak-anak ini adalah korban dalam rumah tangga orang tuanya, bahasa gaulnya broken home. Mereka anak-anak yang tidak pernah mengerti kenapa orang tuanya kerap bertengkar dalam rumah di hadapan mereka dan tiba-tiba memutuskan untuk berpisah. Padahal mereka masih kecil, masih butuh kasih sayang dari keduanya. Tetapi pada saat keduanya berpisah, anak-anak tidak pernah dijadikan penghalang. Dengan mudahnya memutuskan berpisah tanpa memikirkan nasib si anak. Tidak pernah berpikir ketika si anak nantinya akan memiliki pengganti ibu dan ayahnya di rumah yang berbeda-beda.
 
Ayah tiri jarang menjadi sesuatu yang menakutkan karena selalu ada si ibu yang akan pasang badan untuk anak-anaknya. Lain hal dengan ibu tiri, ayah terkadang terlalu membela si ibu tiri walaupun perlakuannya sudah diluar batas. Aku sendiri sudah menyandang gelar ibu tiri sudah delapan tahun. Dan tidak pernah sekalipun aku "menyentuh" mereka dengan tamparan, cubitan atau sejenisnya, walau terkadang kelakuan mereka mengundang emosi tapi tetap saja aku mati-matian melawan rasa emosi. Berusaha mati-matian agar mereka tahu aku berbeda, aku bukan ibu tiri seperti kebanyakan atau seperti cerita di sinetron. Aku bukan hanya ingin "terlihat" berbeda tapi aku lebih menginginkan mereka merasakan juga bahwa aku menyayangi dan mencintai mereka.
 
Aku tahu anak-anak ini tidak menginginkan kedua orang tuanya bercerai serta ayahnya menikah lagi dengan wanita lain. Aku juga tahu mereka mempunyai hak yang sama dengan anak-anak kandungku. Mereka adalah anak-anak yang tetap butuh kasih sayang, cinta serta perhatian dari orang tuanya, dariku serta dari ayahnya. Dan sejauh ini aku tidak pernah melarang atau protes ketika mereka bermanja-manja dengan ayahnya, agar mereka tidak pernah berpikir bahwa aku adalah ibu tiri perebut ayah mereka, perebut kasih sayang ayahnya dari mereka. Dari awal aku sudah berkomitmen, kalau sudah memutuskan menikah dengan ayahnya, berarti harus siap menerim anak-anaknya. Siap merangkul mereka dan memberi mereka kasih sayang yang sama dengan anak kandungku, namun pasti ada sedikit perbedaan karena kita tidak punya takaran untuk kasih sayang ataupun perhatian.
 

''Ya Allah jadikan peranku ini sebagai ladang amal bagiku, beri aku kekuatan dan kesabaran dalam mendidik dan merangkul mereka. Jadikan aku sebagai ibu tiri yang mulia dalam mengasuh anak anak yang bukan terlahir dari rahimku...Amiiin''
 
 
 
 
photo dari sini

Kamis, 09 Oktober 2014

Anak-anakku, Penyemangat Hidupku.

Jika berbicara soal pendidikan, aku ingin menyudahi pembicaraan itu secepat mungkin. Karena aku adalah wanita yang mencintai pendidikan namun berpendidikan minim, pendidikan terakhir hanya jenjang SMA bukan karena apa melainkan karena jodoh cepat menghampiri.
 
Aku punya banyak teman yang berpendidikan,  berprofesi dan berpenghasilan sendiri, tak jarang salah seorang dari mereka menyindir bahkan mengejekku ''tau apa kamu tentang cerita kami, kami bercerita soal kuliah, sedangkan kamu SMA saja tidak selesai!"
Betapa kata-katanya menyayat hati, memporak-porandakan perasaan. Tapi aku tak pernah membalas bahkan aku selalu mengatur kalimat-kalimat yang hendak ku ucapkan agar aku wanita yang tidak berpendidikan ini terlihat lebih ''santun'' dari pada mereka, karena aku tidak pernah menghina orang yang sama sekali tidak pernah duduk di bangku sekolah.
 
Cita-citaku sejak kecil adalah menjadi dokter, namun sepertinya Tuhan tidak mengizinkan aku menjadi seorang dokter. Tuhan menghendakiku untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik. Namun tidak mengapa bagiku toh aku punya putra putri yg akan meneruskan cita-citaku.
 
Putri pertamaku akan menjadi dokter di masa depan. Dia akan aku sekolahkan ke jenjang paling tinggi disalah satu Universitas Negeri di Indonesia Dan aku akan bangga dan membusungkan dada saat menghadiri wisudanya kelak. Orang-orang di sekitar kami akan memanggil putriku dengan sebutan dr. Zhira dan akan segera disusul dengan sederet huruf di belakang namanya, entah itu SPA, SPOG, SPD ataupun Spesialis lainnya. Hmm...aku semakin tidak sabar menunggu pertumbuhannya.
 
Dan putra keduaku, putra pembawa nama keluarga kecilku akan menjadi pengusaha sukses seperti ayahnya. Pemegang saham di perusahaan industri di Sumatera ini. Menjadi pengusaha termuda di zamannya kelak. Tidak kalah penting, akan menjadi laki-laki impian semua wanita di sekitarnya. Amin ya Allah...
 
Ejekan, sindiran serta hinaan kujadikan semangat untukku dalam mendidik anak-anakku. Mereka akan tercengang melihat kesuksesan kedua anakku. Anak-anak yang hanya dilahirkan, diasuh dan dididik oleh wanita yang tidak berpendidikan ini. Anak-anak yang mampu menyaingi anak-anak lain yang terlahir dari wanita berpendidikan tinggi. Bahkan aku berani bermimpi, suatu saat kelak salah satu dari mereka akan mampu membawaku berdiri tepat di bawah kaki patung Liberty. Tempat yang sejak remaja ingin aku kunjungi, ingin melihat secara langsung seberapa tinggi patung tersebut.
 
Tidak apa jika hari ini orang di sekitarku melemparkan hinaan ke depan wajahku. Aku percaya hinaan mereka akan berbuah manis pada waktunya. Tuhan akan menjawab semua hinaan itu untukku. Tuhan akan semakin memelukku untuk selalu menjadi ibu yang tangguh untuk anak-anakku, ibu yang mampu mengantarkan anak-anak ke gerbang kesuksesan mereka masing-masing.
 
 
pict from here
 
Anak-anakku, cukup mama yang tidak berpendidikan. Cukup mama yang tidak sempat mereguk indahnya dunia pendidikan. Cukup mama yang dihina manusia-manusia munafik ini. Cukup mama, jangan kalian!! Genggam erat jemari mama dan berjalanlah bersama mama.  Agar mama selalu punya nafas untuk mendampingi kalian mewujudkan cita-cita. Untuk membuktikan pada mereka, kalianlah penerus mama, penerus si wanita yang tidak sempat menyelesaikan SMA-nya. Untuk menjadi ladang amal mama kelak jika sudah menghadapNya, yang membuat Tuhan bergumam "Tidak sia-sia Kutitipkan dua ciptaanKu di tangan wanita hebat ini"
 
 
 

Rabu, 08 Oktober 2014

Setiap hari aku harus berjibaku dengan aktifitas2 yang membosankan ini,tapi sebosan apapun tetap harus dijalani.tiap hari ditiap2 detiknya aku selalu sibuk urus ini urus itu,untuk hal ini dan hal itu terkadang urusan perut harus jadi nomor 2,kesehatan pun terbengkalai Disini dirumah sederhana ini sudeh kuhabiskan waktu 8tahun dan selama itu pula aku menjadi petugas kebersihannya karena itu aku lebih tau bagaimana detailnya tiap sudut rumah ini,bahkan aku lebih tau ketimbang sipemilik rumah sekalipun! Hidup pun berjalan normal2 saja setiap sore aku berdandan alakadarnya menunggu suami pulang,tentu saja sudah memasak membenahi rumah n memandikan anak2 sebelumnya.kehidupan kami terlihat sempurna istri sepenuhnya dirumah suami bekerja! Aku terlihat bahagia,bahkan bahagia sekali.tentu saja rekeningku semakin gendut,tiap saat bisa beli apa saja yg kuinginkan dan bila ingin pergi kemanapun selalu ada mobil yg siap mengantar dan menjemput tentu saja dengan supir pribadi! Bahkan untuk perjalanan dekat yg bisa ditempuh oleh motor aku tetap mengandalkan supir,bukan karena gengsi atau apapun,melainkan karena aku memang tdk bs mengendarai motor!...hahahaha zaman modren seperti ini tidak bisa bawa motor?? Hellloooo..dunia sedang mengejekku!! Dan dgn lantang kujawab,biarlah disini aku adalah nyonya besar,elakku cepat!! Sebenarnya aku mulai tdk nyaman atau mungkin bosan dengan semua ini,aku ingin bebas,aku ingin bangun jam 10pagi,aku ingin tidak masak hari ini,aku ingin berlama2 depan TV menonton sinetron terbaru,aku ingin bebas berpendapat bebas mngajukan apa saja yang terselip dihati dan pastinya bebas untuk menyetir mobil pazero sport impianku..wkwkwkwk.. Ntah sampai kapan perjalanan ini seprti ini hanya mengangguk pelan ketika mereka berkata ''kamu harus seperti ini,harus begini'' tanpa pernah ada tanya maukah atau mampukah aku sebelumnya! Tidak ada yang salah memang toh aku hanya penumpang disini,bukankah penumpang harus ikut kemana nakhoda berrlayar? Tapi kembali rasa ingin bebas ini meronta2 ingin keluar.aku terkadang merasa seperti berada dalam sangkar emas,seperti burung dalam sangkar emas tepatnya!(Dramatis sekali,sudah seperti syair lagu saja,hahahaha) Terkadang aku menghibur diri sendiri,atau mengajak diri untuk menikmati tiap detik tiap hembusan nafas dalam sangkar emas ini..tp sampai kapan? Sementara rasa ingin bebas sudah menggebu2 tuk dibebaskan,sampai kapan Tuhan,tanyaku pada tuhan,tapi tuhan masih tetap diam saja..baiklah biarkan aku sendiri yg menjawab''sampai waktu yg belum ditentukan oleh Tuhan''hari ini kupandangi tiap sudut ruangan ini langsung mataku menangkap satu sudut,hari pertama aku masuk kerumah ini sudut itu masih kosong tp hari ini,disana sudah ada satu vas bunga yg berdiri indah dgn warnawarninya namun sedikit kusam ditutupi oleh abu,kuseka! Agar warnawarniny kembali carah! Kembali mataku menangkapp dinding yg warna catnya mulai kusam ada lukisan disana,dulu sebelum aku ada dinding itu kosong!Rumah sederhana ini ku dekorasi semauku kubuat indah kubuat nyaman dgn caraku..Namun itu tak berarti apapun,kembali rasa ingin bebas ini bertanya''ini rumah atau penjara sih?''Lalu aku mengajak rasa ini berdamai untuk menerima bahwa ini adalah rumah kami,tempat kami pulang! Kujelaskan padanya bahwa dirumah ini aku belajar banyak hal,tentang semua perjalanan hidup,karena itu rumah ini harus nyaman buatku,buat kami buat kita..HARUS...! Hei rasa ingin bebas rumah ini Indah sebenarnya,indah karena dia sudah melindungi kita selama 8tahun,nyaman atau tidak ini adalah tumah kita,tempat kita memang disini..disini masih banyak tugas yg harus kita selesaikan,bersabarlah! Karena tadi malam Tuhan mengirim pesan singkat padaku,isinya''bersabarlah dan tetap lakukan yang terbaik untuk tugas2mu,sampai aku berkata ''tugasmu selesai hari ini,maka kau akan bebas....

Jumat, 03 Oktober 2014

Lagu Kenangan

Jauh dilubuk hatiku
Masih terukir namamu
Jauh didasar jiwaku
Engkau masih kekasihku
Tak bisa kutahan lagi angin
Untuk semua kenangan yang berlalu
Hembuskan sepi merobek hati
Meski raga ini tak lagi milikmu
Namun didalam hatiku sungguh engkau hidup
Entah sampai kapanKutahankan rasa cinta ini
Dan kuberharap semua iniBukanlah kekeliruan seperti yang kukira
Seumur hidupkuAkan menjadi doa untukmu
Andai saja waktu bisa terulang kembali
Akan kuserahkan hidupku ini disisimu
Namun ku tau itu takkan mungkin terjadi
Rasa ini menyiksaku sungguh-sungguh menyiksaku
Jauh dilubuk hatiku
Kau masih kekasihku

 
Lirik lagu Naff ini begitu menyayat hati, matapun masi saja berkaca-kaca kalau mendengarnya. setiap mendengar lagu ini, aku merasa setiap bait kata-katanya ditujukan kepadaku, dinyanyikan untukku..
 
terkadang aku berharap kalau lagu ini sudah menghilang, sudah tak terdengar di belahan dunia manapun. karena setiap kali aku mendengar liriknya, aku selalu terlempar ke masa delapan tahun lalu. selalu membuat jantung berdetak cepat dan otakpun dipaksa kembali memutar memori lama tersebut. dan lagu ini akan selalu menjadi alarm pengingat bahwa Kau Masih Kekasihku.
 



Senin, 29 September 2014

Nama itu...

aku menoleh ke arah jendela, bulir-bulir air hujan semakin deras membasahi kaca. angin mulai menerpakan dinginnya hingga menusuk ke tulang belulang. malam semakin larut tapi mata tak kunjung terpejam.

ku amati sekeliling, yang ada hanya sepi dan dengkuran seseorang. pulas sekali tidurnya, dia sudah cukup lelah dengan kesehariannya, pikirku.
aku mengamati wajahnya, kelopak matanya cekung dan kulitnya sedikit memerah akibat mentari tadi siang membakarnya.

mulia sekali hatimu, priaku.
hasil kerja kerasmu, aku yang menikmati. peluh tubuhmu adalah kesenangan buatku.
akkhhh...memang sudah seharusnya begitu bukan?
suami yang banting tulang, istri yang mengendalikan hasilnya.

aku masih mengamati wajahmu priaku. dan coba menggali perjalanan kami delapan tahun terakhir ini. tahun-tahun pertama aku selalu menghakimimu. kau yang telah menghancurkan masa mudaku! kau yang merebut masa remajaku! kau yang menghancurkan cita-citaku! meluluhlantakkan seluruh impianku! juga memisahkanku dengan seseorang!
lalu tiba-tiba kenangan yang tak seharusnya, memaksa masuk ke dalam nalarku. kenangan usang yang minta dibuka. kenangan yang mulai dimakan waktu, yang perlu diseka sedikit agar lebih jelas terlihat.

yaah..ini tentang seseorang itu. tentang satu nama yang masih terselip di hati, yang selalu mampu membuat mataku berbinar-binar ketika mengingat namanya. yang membuat bisikian merdu ditelinga ketika orang lain menyebut tentangnya.

hhmmm kutarik nafas perlahan lalu ku hempaskan. tiba-tiba sesak yang kurasakan. seketika batinku berteriak lantang "ya Tuhan masih saja aku menyimpan namanya dalam diam, menjaga namanya disekeping hatiku. berdosakah aku? salahkah aku yang sampai detik ini masih berharap suatu hari dia akan datang menjemputku? walau ku tahu dia juga sudah memilih wanita untuk jadi Ibu dari anak-anaknya."

jiwapun meronta seakan menahan asa. ku seka wajah yang tak sadar sudah kuyup diguyur air mata. aku kembali menoleh ke sebelahku, masih terbaring pria yang sama dengan yang ku amati sedari tadi. dia menggeliat, merapatkan tangan ke tubuhnya. aku merapatkan selimutnya, mungkin saja dia kedinginan. sama seperti hatiku saat ini.

ku belai rambut hitamnya sambil berbisik "kau sungguh mulia sayang! semua kerja kerasmu kau persembahkan untukku, untuk istrimu yang masih menyimpan nama orang lain di sudut hatinya. maafkan aku sayang masih menyisakan ruang untuk seseorang selain dirimu." aku menyeka air mata dan meraih jemarinya "tak akan pernah lagi kubiarkan nama itu kembali hadir. akan kupastikan nama itu sudah hanyut terbawa hujan malam ini."

hujan masih saja deras. ku coba merebahkan kembali tubuhku disisi kanan priaku ini, berharap kami menyatu dalam mimpi. sembari memejamkan mata aku berdoa, ya Tuhan semoga sosok ini tak pernah tahu apa yang terjadi malam ini.




Kamis, 25 September 2014

Jangan Pernah Kembali!

saat kuputuskan untuk pergi, apa usahamu untuk menghentikanku? tidak ada bukan?
padahal aku berharap kau tetap menggenggam jemariku atau mengulurkan sebelah tanganmu kearahku. lalu untuk apa kau hadir lagi? sementara kehadiranmu seolah membuat luka lamaku kembali menganga lebar membuatnya berdarah lagi.
lalu mengapa kau menyalahkanku dengan semua yang sudah terjadi?
kau hanya berbicara bagaimana sakitmu, tapi apa kau pernah bertanya seperti apa sakit yang  kualami? yang kau tahu aku berkhianat pergi meninggalkanmu. padahal tidak! kau yg membuat aku pergi dan kini Tuhan sudah menghadirkan seseorang untukku..
aku mohon, jangan paksa aku untuk pulang kepadamu. aku sudah memilih dan takdirku di sini bersamanya, bukan denganmu.
kau terlambat! terlambat untuk kembali, lagi.
karena sudah tidak ada lagi kisah untuk kau dan aku, menjadi kita.

Selasa, 23 September 2014

Untukmu, Priaku Abdul Khairi...

Aku memang tak pernah mengenalmu sebelumnya, bahkan aku tak tahu bahwa ada sosok Adam sepertimu, Priaku! Tuhan memang ajaib mempertemukan kita tiba-tiba mengikat kita dalam ikatan suci pernikahan..
 
Akh..ini memang misteri yang tak pernah terduga aku tidak mencintaimu tapi bersedia menikah denganmu. Bahagiakah aku?
Jawabnya sangat sangat bahagia karena kita memulai semua dari awal memulai suka memulai sayang dan memulai cinta dari awal setelah kita Halal...
 
Taukah kau ada satu rasa entah apa namanya yang berkali-kali kurasakan ketika memandangmu? Itukah cinta?
 
Aku tersenyum geli. Dengan mata yang masih melekat ke arahmu hati bergumam ''Terimakasih Tuhan telah menghadirkannya untukku, izinkan kami bersama lebih lama lagi..sampai kami menua hingga azal yang jadi pemisah...

 
gambar pinjem di sini