Ibu tiri atau bisa juga disebut ibu pengganti adalah momok yang menakutkan untuk anak-anak, baik yang masih usia kanak-kanak maupun sudah dewasa.
Yang pertama terpikir ketika mendengar kata ibu tiri mungkin adalah kejam. Mulai dari perlakuan yang semena-mena, cara mendidik anak tiri dengan sadis atau bisa juga seperti bermuka monster.
Untukku sendiri juga sama, ibu tiri adalah predikat buruk terdengar di telingaku. Yaa aku seorang ibu tiri yang mengurusi dua anak bawaan dari suami. Tapi aku sangat tidak setuju dengan kalimat "tidak ada ibu tiri yang tidak kejam". Hey..aku ingin teriak "adaaaa...ini aku orangnya!!"
Anak-anak ini adalah korban dalam rumah tangga orang tuanya, bahasa gaulnya broken home. Mereka anak-anak yang tidak pernah mengerti kenapa orang tuanya kerap bertengkar dalam rumah di hadapan mereka dan tiba-tiba memutuskan untuk berpisah. Padahal mereka masih kecil, masih butuh kasih sayang dari keduanya. Tetapi pada saat keduanya berpisah, anak-anak tidak pernah dijadikan penghalang. Dengan mudahnya memutuskan berpisah tanpa memikirkan nasib si anak. Tidak pernah berpikir ketika si anak nantinya akan memiliki pengganti ibu dan ayahnya di rumah yang berbeda-beda.
Ayah tiri jarang menjadi sesuatu yang menakutkan karena selalu ada si ibu yang akan pasang badan untuk anak-anaknya. Lain hal dengan ibu tiri, ayah terkadang terlalu membela si ibu tiri walaupun perlakuannya sudah diluar batas. Aku sendiri sudah menyandang gelar ibu tiri sudah delapan tahun. Dan tidak pernah sekalipun aku "menyentuh" mereka dengan tamparan, cubitan atau sejenisnya, walau terkadang kelakuan mereka mengundang emosi tapi tetap saja aku mati-matian melawan rasa emosi. Berusaha mati-matian agar mereka tahu aku berbeda, aku bukan ibu tiri seperti kebanyakan atau seperti cerita di sinetron. Aku bukan hanya ingin "terlihat" berbeda tapi aku lebih menginginkan mereka merasakan juga bahwa aku menyayangi dan mencintai mereka.
Aku tahu anak-anak ini tidak menginginkan kedua orang tuanya bercerai serta ayahnya menikah lagi dengan wanita lain. Aku juga tahu mereka mempunyai hak yang sama dengan anak-anak kandungku. Mereka adalah anak-anak yang tetap butuh kasih sayang, cinta serta perhatian dari orang tuanya, dariku serta dari ayahnya. Dan sejauh ini aku tidak pernah melarang atau protes ketika mereka bermanja-manja dengan ayahnya, agar mereka tidak pernah berpikir bahwa aku adalah ibu tiri perebut ayah mereka, perebut kasih sayang ayahnya dari mereka. Dari awal aku sudah berkomitmen, kalau sudah memutuskan menikah dengan ayahnya, berarti harus siap menerim anak-anaknya. Siap merangkul mereka dan memberi mereka kasih sayang yang sama dengan anak kandungku, namun pasti ada sedikit perbedaan karena kita tidak punya takaran untuk kasih sayang ataupun perhatian.
''Ya Allah jadikan peranku ini sebagai ladang amal bagiku, beri aku kekuatan dan kesabaran dalam mendidik dan merangkul mereka. Jadikan aku sebagai ibu tiri yang mulia dalam mengasuh anak anak yang bukan terlahir dari rahimku...Amiiin''
photo dari sini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar