aku menoleh ke arah jendela, bulir-bulir air hujan semakin deras membasahi kaca. angin mulai menerpakan dinginnya hingga menusuk ke tulang belulang. malam semakin larut tapi mata tak kunjung terpejam.
ku amati sekeliling, yang ada hanya sepi dan dengkuran seseorang. pulas sekali tidurnya, dia sudah cukup lelah dengan kesehariannya, pikirku.
aku mengamati wajahnya, kelopak matanya cekung dan kulitnya sedikit memerah akibat mentari tadi siang membakarnya.
mulia sekali hatimu, priaku.
hasil kerja kerasmu, aku yang menikmati. peluh tubuhmu adalah kesenangan buatku.
akkhhh...memang sudah seharusnya begitu bukan?
suami yang banting tulang, istri yang mengendalikan hasilnya.
aku masih mengamati wajahmu priaku. dan coba menggali perjalanan kami delapan tahun terakhir ini. tahun-tahun pertama aku selalu menghakimimu. kau yang telah menghancurkan masa mudaku! kau yang merebut masa remajaku! kau yang menghancurkan cita-citaku! meluluhlantakkan seluruh impianku! juga memisahkanku dengan seseorang!
lalu tiba-tiba kenangan yang tak seharusnya, memaksa masuk ke dalam nalarku. kenangan usang yang minta dibuka. kenangan yang mulai dimakan waktu, yang perlu diseka sedikit agar lebih jelas terlihat.
yaah..ini tentang seseorang itu. tentang satu nama yang masih terselip di hati, yang selalu mampu membuat mataku berbinar-binar ketika mengingat namanya. yang membuat bisikian merdu ditelinga ketika orang lain menyebut tentangnya.
hhmmm kutarik nafas perlahan lalu ku hempaskan. tiba-tiba sesak yang kurasakan. seketika batinku berteriak lantang "ya Tuhan masih saja aku menyimpan namanya dalam diam, menjaga namanya disekeping hatiku. berdosakah aku? salahkah aku yang sampai detik ini masih berharap suatu hari dia akan datang menjemputku? walau ku tahu dia juga sudah memilih wanita untuk jadi Ibu dari anak-anaknya."
jiwapun meronta seakan menahan asa. ku seka wajah yang tak sadar sudah kuyup diguyur air mata. aku kembali menoleh ke sebelahku, masih terbaring pria yang sama dengan yang ku amati sedari tadi. dia menggeliat, merapatkan tangan ke tubuhnya. aku merapatkan selimutnya, mungkin saja dia kedinginan. sama seperti hatiku saat ini.
ku belai rambut hitamnya sambil berbisik "kau sungguh mulia sayang! semua kerja kerasmu kau persembahkan untukku, untuk istrimu yang masih menyimpan nama orang lain di sudut hatinya. maafkan aku sayang masih menyisakan ruang untuk seseorang selain dirimu." aku menyeka air mata dan meraih jemarinya "tak akan pernah lagi kubiarkan nama itu kembali hadir. akan kupastikan nama itu sudah hanyut terbawa hujan malam ini."
hujan masih saja deras. ku coba merebahkan kembali tubuhku disisi kanan priaku ini, berharap kami menyatu dalam mimpi. sembari memejamkan mata aku berdoa, ya Tuhan semoga sosok ini tak pernah tahu apa yang terjadi malam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar