Malam
ini tangisanku tanpa air mata, air mata sudah habis ditangis pada malam-malam sebelumnya. Selain menangis, aku juga mengajak naluriku berdamai. Berdamai dengan
kenyataan. Walau sebenarnya aku berharap bahwa kenyataan ini hanya mimpi. Mimpi
yang ketika esok pagi aku bangun, aku sudah melupakannya. Melupakan kehidupan yang
lebih banyak sakitnya dari pada bahagianya.
Sebelum mengajak naluri berdamai aku
sudah marah pada diri sendiri. Pada diri yang sudah memilih jalan pahit
ini. Jalan yang kerikilnya semakin tajam untuk dilalui!
Semua yang kulakukan terasa tak ada
arti dan tak ada satupun yg perduli. Bahkan tangisan tanpa air mata ini adalah awal menuju
langkah yg jauh lebih tajam lagi. Dan pada tangisan malam inipun aku tak pernah bosan
untuk menengadahkan tangan meminta kepadaNya, untuk tetap memelukku, meyakinkanku
bahwa aku memiliki Dia. Bahwa Dia selalu menuntunku melewati kerikil tajam itu hingga akhirnya aku menemukan
jalan yang lurus dan mulus menuju bahagia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar