Kamis, 06 November 2014

Air Mata Lagi

Malam ini tangisanku tanpa air mata, air mata sudah habis ditangis pada malam-malam sebelumnya. Selain menangis, aku juga mengajak naluriku berdamai. Berdamai dengan kenyataan. Walau sebenarnya aku berharap bahwa kenyataan ini hanya mimpi. Mimpi yang ketika esok pagi aku bangun, aku sudah melupakannya. Melupakan kehidupan yang lebih banyak sakitnya dari pada bahagianya.

Sebelum mengajak naluri berdamai aku sudah marah pada diri sendiri. Pada diri yang sudah memilih jalan pahit ini. Jalan yang kerikilnya semakin tajam untuk dilalui!

Semua yang kulakukan terasa tak ada arti dan tak ada satupun yg perduli. Bahkan tangisan tanpa air mata ini adalah awal menuju langkah yg jauh lebih tajam lagi. Dan pada tangisan malam inipun aku tak pernah bosan untuk menengadahkan tangan meminta kepadaNya, untuk tetap memelukku, meyakinkanku bahwa aku memiliki Dia. Bahwa Dia selalu menuntunku melewati kerikil tajam itu hingga akhirnya aku menemukan jalan yang lurus dan mulus menuju bahagia.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar