Sabtu, 16 Mei 2015

dia mantan suamiku

Setelah pengadilan mensyahkan perceraian kami sepuluh tahun lalu kini kami dipertemukan kembali.diruangan yang sama kami harus duduk berdampingan.memandang haru kedepan sana.disana telah berdiri putra bungsu kami.hari ini adalah pelantikannya sbg seorang jendral tni.ada linangan air mata yg buru buru kuseka disudut mataku.aku berusaha menyembunyikannya.
Kepengurusan pendidikan anak anak membuat kami akhir akhir ini sering bertemu. Seperti bulan lalu ketika putri sulung kami menyelesaikan pendidikannya.kami jg berada dalam satu ruangan duduk berdampingan diacara yang sakral.wisuda untuk gelar s2 kedokterannya.kini putra putriku memiliki gelar dibelakang namanya.ini yang membuatku kerap menitikkan air mata anak2 yang tumbuh dalam konflik kedua orang tuanya ini ternyata meraih sukses dalam kondisi keluarga yang berantakan.tapi walau demikian mereka tak pernah kurang akan kasih sayang karena sebelum bercerai dulu kami orangtuanya sepakat untuk tetap memberi kasihsayang seperti seharusnya pada mereka.karena itu mereka tak pernah tau apa penyebab orangtuanya bercerai.dan aku rasa mereka tak perlu tahu.
Sering bertemu duduk berdampingan dalam satu ruangan terkadang membuat dada sedikit sesak rasanya aku ingin pindah tempat kesudut manapun asalkan tidak disebelah lelaki ini.lelaki yang menggoreskan luka yang teramat bagiku lelaki yang membunuh impian impianku juga lelaki yang pernah membuatku bersumpah untuk tidak pernah mencintai lelaki manapun.pada pertemuan pertemuan kami dia lebih banyak bicara daripada aku.ketika kami diam dan hening selalu saja dia yang memecah kebekuan diantara kami setelah sebelumnya dia mencuri curi pandang kearahku.berbeda denganku yang memang tak ingin bicara atau bahkan tuk sekedar memandangnya mungkin saja karena luka lama ku yang tak kunjung sembuh.apa kabar,sudah lama menunggu,dan apa kamu baik baik saja sering keluar dari mulutnya dan aku menjawab seadanya kabar baik,sudah dan aku baik baik saja.tak sengaja mata kami beradu pandangan kami berhenti didepan wajah masing masing.lelaki ini masih sama kulitnya tetap sawo matang dadanya bidang matanya tetap tajam gerak geriknya aku masih hapal yang berbeda dahi nya yang semakin plontos rambut bagian depan kepalanya rontok mungkin dan yang sangat kontras adalah kepalanya yg tak lagi berambut hitam disana sudah terlihat rambut putih yang aku rasa sudah tidak terhitung lagi berapa helainya.dada berdegup kencang.ya tuhan perasaan apa ini mengapa hati mendadak tak menentu begitu menatap matanya,bisikku pelan.
Aku tahu hingga kini dia masih sendiri begitupun aku,aku memang trauma dengan yang namanya pernikahan itu sebabnya mengapa aku tak pernah membuka hati untuk lelaki manapun.lalu dia mengapa masih sendiri aku pikir itu tidak penting untukku.aku menyadari sedari awal lelaki ini memang ingin kembali menyelami hatiku.tapi itu tak akan terjadi karena aku sudah mengunci pintu hatiku rapat rapat dan menyembunyikan kunci itu sejauh mungkin.aku tak ingin lelaki ini menyentuh hatiku semudah itu.menyentuh hati yang telah dilukainya ini.kulawan semua godaan yang menghampiriku.kupastikan bahwa ku sudah tidak pernah mengingat dan memikirkannya walau sebenarnya aku ragu akan hal itu.pertemuan ini harus segera berakhir.aku khawatir lelaki ini akan membuatku jatuh cinta lagi yang kedua kali padanya  membuatku jatuh dan terluka lagi..ya rabb jaga hatiku agar dia tak berhasil menyentuhnya lagi
Dia yang kumaksud ''mantan suamiku''

Tidak ada komentar:

Posting Komentar