Kamis, 13 November 2014

Sore Itu, Bersama Gerimis

Jika suatu hari kita berpisah kuingin itu menjadi perpisahan yang indah. Perpisahan yang manis. Perpisahan yang tidak pernah terjadi pada orang lain. Perpisahan yang kita tersenyum saat berucap untuk berpisah. Perpisahan yang tanpa menyakiti siapapun, termasuk anak-anak kita. Perpisahan yang membawa kita pada kebaikan masing-masing.
Ketika kelak kita dipertemukan kembali, kita bisa saling berpandangan dan hati kita masing-masing berucap "aku beruntung pernah mencintainya". Dan perpisahan manis ini hanya milik kita.


Selasa, 11 November 2014

Edisi baikan

Pagi ini ada yang baru ku alami. Sesuatu yang hilang beberapa waktu kemarin. Sapaan yang mesra telah kembali. Senyumannya dipagi hari muncul lagi. Pujiannya ketika makan pagi, tentang masakanku kembai lagi terdengar di telinga.
Ada hangat yang menyesap ke dada. Lalu buncah menjadi senyuman.
Kehangatan yang sudah sangat kurindukan. Kehangatan baru yang menjadi pertanda bahwa reinkarnasi-ku membuahkan hasil. Dingin sudah berlalu dan hangat kembali menyelimuti aku dan rumah ini. Ini wujud nyata perkataan seseorang kepadaku "Karena setelah dingin berlalu, akan selalu ada hangat yang mendekap".
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Berharap

Ini adalah masa yang sudah kuduga akan datang menghampiri. Masa di mana tak ada rasa apapun di dalam pernikahan kami. Pernikahan yang kini hanya berjalan, berjalan, berjalan kemudian berlalu. Sulit sekali rasanya memahami kondisi ini. Ibarat perahu kecil yang mengapung dilautan luas, terombangambing oleh riak ombak tanpa tahu ke mana akan berlabuh.
 
Pernikahan yang pada akhirnya kupasrahkan kepada Dia. Karena Dia lah pernikahan ini terjadi, karena kehendakNya kami bersatu dalam takdir. Bukan karena cinta.
Bukan pernikahan yang seperti kebanyakan, yang didasari cinta dan kasih sayang.
 
Saat ini hanya mampu berdoa, ya Allah semoga Kau memberi kemudahan dan kelapangan hati untuk menjalani ini semua, jangan biarkan perahu kecil kami semakin jauh terbawa angin lalu dihantam badai hingga tenggelam ditelan ombak. Sentuh hati kami ya Robb, agar kami kembali saling mencintai.




Untuk Kamu

Dia adalah orang yang menyeramkan buatku. Memandangnya dari kejauhan saja membuatku gemetar tak menentu tapi itu dulu. Dulu sekali.
 
Dia adalah perempuan bertubuh mungil yang sudah sejak lama tak luput dari kehidupanku. Tubuh mungilnya selalu saja nyaman untuk tempatku bersandar. Dan saat bicara dengannya segala yang kurasa sulit menjadi jauh lebih mudah. Nasehatnya, pelukannya, perlakuannya semua terasa menyenangkan sekali.
 
Dia perempuan yang hingga kini selalu menjadi pemberi jawaban disetiap pertanyaanku. Dia perempuan kuat, yang selalu menyalurkan kekuatannya padaku. Memberi setengah ketangguhannya untukku. Memberi sesuatu yang tidak pernah diberikan orang lain buatku. Dia perempuan hebat yang membuatku juga merasa hebat pernah bersandar di peluknya.
 
Perempuan itu adalah kamu.
 
 

Jumat, 07 November 2014

Dingin

Akhir-akhir ini ada yang berubah di sini.
Rumah kami tak lagi senyaman kemarin, suasananya pun terasa hambar.
Yang ada hanya wajah-wajah dingin lalu lalang tak menentu.
Malam ini pun masih sama. Sama dinginnya.
Hanya ada satu kebiasaan yang tak terkalahkan dingin.
Kami masih makan malam bersama, di meja yang sama
Yang berbeda, sudah tak ada lagi pujian tentang masakanku. Dari dia.
Obrolan sebelum tidur pun menghilang.
Padahal aku begitu merindukannya.
Dan ketika besok pagi aku membuka mata yang kutemui juga hanya tatapan dingin
Tatapan yang sama seperti pagi sebelum-sebelumnya.
Aku hanya berani bertanya dalam hati,
Adakah dia merasa marah?
Marah dengan keinginanku yang sudah tak sejalan dengan pikirannya.
Adakah dia juga merasakan jenuh?
Jenuh yang sama dengan yang kurasa saat ini.
Meski jenuh, meski dia tak pernah mengerti tentang apa yang kuinginkan,
Aku selalu merindukan semua kebiasaan dan kebersamaan kami dulu.
 
gambar dari sini

mulai jenuh

Sekarang aku sudah sampai pada fase ini.
Fase di mana aku mulai jenuh dan sedikit lelah melalui perjalanan ini.
Jenuh menjadi istri penurut. Jenuh menjadi ibu yang baik. Jenuh menjadi menantu yang selalu mengalah. Ya..hanya jenuh
Hanya sekedar ingin berhenti sebentar saja.
Berhenti memainkan peran ini.
Berhenti menghilangkan lelah, untuk mengeringkan peluh yang terlalu banyak membanjiri tubuh.
Berhenti untuk berdiam diri lalu ber-reinkarnasi menjadi seseorang yang baru 
Seseorang yang lebih tangguh untuk menjalani kehidupan ini kembali
Berhenti beberapa menit saja, namun tidak untuk mengakhiri
Karena sesungguhnya tak ada yang ingin ku akhiri.

Kamis, 06 November 2014

Air Mata Lagi

Malam ini tangisanku tanpa air mata, air mata sudah habis ditangis pada malam-malam sebelumnya. Selain menangis, aku juga mengajak naluriku berdamai. Berdamai dengan kenyataan. Walau sebenarnya aku berharap bahwa kenyataan ini hanya mimpi. Mimpi yang ketika esok pagi aku bangun, aku sudah melupakannya. Melupakan kehidupan yang lebih banyak sakitnya dari pada bahagianya.

Sebelum mengajak naluri berdamai aku sudah marah pada diri sendiri. Pada diri yang sudah memilih jalan pahit ini. Jalan yang kerikilnya semakin tajam untuk dilalui!

Semua yang kulakukan terasa tak ada arti dan tak ada satupun yg perduli. Bahkan tangisan tanpa air mata ini adalah awal menuju langkah yg jauh lebih tajam lagi. Dan pada tangisan malam inipun aku tak pernah bosan untuk menengadahkan tangan meminta kepadaNya, untuk tetap memelukku, meyakinkanku bahwa aku memiliki Dia. Bahwa Dia selalu menuntunku melewati kerikil tajam itu hingga akhirnya aku menemukan jalan yang lurus dan mulus menuju bahagia.


 

Senin, 03 November 2014

Kubuat tulisan ini dengan linangan air mata dengan hati yang terluka.. ''Ya Allah tak ada tempat mengadu kecuali padaMu ya Robb,tempat aku berserah diri tempat aku memohon pertolonganmu...bantu aku ya Allah bantu agar hatiku tetap kuat,bantu agar aku jd manusia yg tetap bersyukur atas ridhoMu,dan bersyukur atas takdir yg sudah Engkau tentukan untukku Ya Allah tak ada tempat mengadu paling mujarab selain padaMu...